Rabu, 15 Juni 2016

Perusahaan Dagang



PERUSAHAAN DAGANG

A.  DEFINISI DAN CIRI-CIRI PERUSAHAAN DAGANG
Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatannya membeli barang, dan menjualnya kembali tanpa melakukan perubahaan terhadap barang tersebut terlebih dahulu.
Ciri-ciri perusahaan dagang antara lain:
1)   Usaha yang dilakukan perusahaan dagang adalah membeli barang dagang dan menjualnya tanpa mengadakan pengolahan terlebih dahulu.
2)   Akuntansi perusahaan dagang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
v Menggunakan akun persediaan barang dagang. Persediaan barang dagang terdiri dari persediaan awal dan persediaan akhir.
v Ada perhitungan harga pokok penjualan.
v Laporan laba rugi dapat menggunakan bentuk single step (langsung) maupun multiple step (bertahap).
B.  AKUN-AKUN DAN TRANSAKSI PERUSAHAAN DAGANG
Transaksi yang umum dilakukan oleh perusahaan dagang sama seperti perusahaan jasa, yaitu:
v Membeli barang dengan kredit.
v Membeli barang dagang dengan tunai.
v Mengembalikan barang dagang.
v Menerima potongan pembelian.
v Membayar atau menerima perhitungan biaya angkut pembelian.
v Menjual barang dagang dengan kredit.
v Menjual barang dagang dengan tunai.
v Menerima kembali barang dagang yang telah dijual.
v Memberi potongan penjualan.
Akun yang biasa digunakan oleh perusahaan dagang selama masa operasinya adalah sebagai berikut:
v Akun persediaan barang dagang.
v Akun pembelian.
v Akun retur pembelian dan pengurangan harga.
v Akun potongan pembelian.
v Akun beban angkut pembelian.
v Akun penjualan.
v Akun retur penjualan dan pengurangan harga.
v Akun potongan penjualan.
C.  METODE PENCATATAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG
Persediaan barang dagang adalah stok barang dengan dengan yang masih ada dan belum terjual.
1)      Metode perhitungan biaya persediaan menurut sistem perpetual. Pada sistem perpetual, semua kenaikan dan penurunan barang dagang dicatat dengan cara yang sama dengan pencatatan kenaikan dan penurunan kas. Akun persediaan pada awal periode menunjukan stok pada tanggal tersebut. Pembelian dicatat dengan mendebet Persediaan Barang Dagang dan mengkredit Kas atau Utang Usaha. Pada tanggal penjualan, harga pokok barang dagang yang terjual dicatat dengan mendebet Harga Pokok Penjualan dan mengkredit Persediaan Barang Dagang.
2)      Metode perhitungan biaya persediaan sistem periodik. Dalam metode ini, hanya pendapatan yang dicatat setiap setiap kali penjualan dilakukan. Tidak ada ayat jurnal yang dibuat pada saat penjualan untuk mencatat harga pokok penjualan. Pada akhir periode, perhitungan fisik harus dilakukan untuk menentukan biaya atau harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan.
Ada tiga asumsi pencatatan harga pokok penjualan barang dagang, yaitu:
v FIFO (First-in first out). Pada metode ini, barang yang pertama kali dibeli dianggap sebagai barang yang pertama kali pula dijual. Harga pokok barang dagang pada laporan laba-rugi diasumsikan adalah harga pokok barang yang dibeli pertama kali.
v LIFO (last-in first out). Harga pokok barang adalah sama dengan barang yang terakhir dibeli.
v Moving average, harga pokok barang dagang yang berbeda-beda tanggal pembeliannya dirata-ratakan untuk mendapatkan harga pokok yang tercatat pada laporan laba-rugi.

Perpajakan



PERPAJAKAN

A.    Pajak menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani adalah iuran masyarakat kepada negara yang terutang oleh yang wajib membeyarnya menurut peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
B.     Ciri-ciri pajak adalah:
1.      Iuran wajib yang dikenakan kepada masyarakat wajib pajak.
2.      Iuran wajib yang ditetapkan dengan norma-norma atau aturan hukum.
3.      Dipergunakan untuk membiayai kepentingan umum.
4.      Bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
5.      Balas jasanya tidak diterima secara langsung.
C.     Fungsi pajak
1.      Sebagai sumber pendapatan negara. Dengan pembayaran pajak, negara akan memiliki dana yang cukup untuk melakukan penyelenggaraan pemerintah dan melakukan pembangunan.
2.      Sebagai alat pemerataan ekonomi. Melalui pajak, pemerintah dapat melakukan subsidi kepada rakyat-rakyat kecil.
3.      Sebagai pengatur kegiatan ekonomi. Melalui pajak, pemerintah dapat mengatur kegiatan konsumsi, distribusi, produksi, ekspor dan impor.
4.      Sebagai alat stabilitas ekonomi. Dengan pajak, pemerintah dapat mendorong pertumbuhan industri baru dengan cara menurunkan atau membesarkan pajak bagi industri-industri yang langka, tetapi banyak dibutuhkan masyarakat, sehingga dapat menjaga stabilitas ekonomi.
D.    Jenis-jenis pajak
1.      Berdasarkan pihak yang menanggung
a.       Pajak langsung, misalnya pajak penghasilan, pajak bumi bangunan.
b.      Pajak tidak langsung, misalnya pajak penjualan, pajak pertambahan nilai, bea materai, bea cukai, pajak penjualan barang mewah.
2.      Berdasarkan pihak yang memungut
a.       Pajak negara, misalnya pajak penghasilan, pajak bumi bangunan, pajak penjualan, pajak pertambahan nilai, bea materai, bea cukai, pajak penjualan barang mewah.
b.      Pajak daerah, misalnya retribusi parkir, pajak tontonan, pajak reklame, retribusi terminal.
3.      Berdasarkan sifatnya
a.       Pajak objektif, misalnya pajak penghasilan
b.      Pajak subjektif, misalnya pajak bumi bangunan, pajak penjualan, pajak penjualan barang mewah.

Neraca Lajur



NERACA LAJUR

A.    PENGETIAN
Neraca lajur (working paper) yang bisa digunakan akuntan untuk mengikhtisarkan ayat jurnal penyesuaian dan saldo akun untuk penyesuaian dan saldo akun untuk penyesuaian laporan keuangan. Atau kertas berkolom yang digunakan sebagai kertas kerja dalam penyusunan laporan keuangan.
B.     TUJUAN NERACA LAJUR
a.    Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan.
b.    Untuk menggolongkan/ meringkas dari neraca saldo dan data penyesuaian.
c.    Untuk mempermudah menemukan kesalahan yang mungkin dilakukan dalam membuat jurnal penyesuaian.
C.     BAGIAN-BAGIAN NERACA LAJUR
1.      Neraca saldo.
2.      Ayat jurnal penyesuaian.
3.      Neraca saldo yang telah disesuaikan.
4.      Laporan laba rugi.
5.      Neraca.
D.    PROSES PENYUSUNAN NERACA LAJUR
a.         Masukan saldo akun buku besar ke dalam kolom neraca saldo pada formulir neraca lajur.
b.         Masukan ayat-ayat jurnal penyesuaian ke dalam kolom penyesuaian.
c.         Mengisi kolom-kolom neraca saldo setelah disesuaikan.
d.        Memindahkan saldo dari kolom neraca saldo setelah disesuaikan ke dalam kolom laba rugi dan kolom neraca.
e.         Menjumlahkan kolom laba rugi dan kolom neraca, memasukan angka “laba bersih” atau “rugi bersih” sebagai angka penyeimbang kedua pasang kolom tersebut.